Home > All About Lampung, motorbike trip, Photo > Perjalanan ke Teluk Paku, Tanggamus

Perjalanan ke Teluk Paku, Tanggamus

batu hitam

seorang ibu dan 3 anaknya memilih-milih batu hitam sesuai ukuran pemesan

Saya masih ingat seminggu sebelum ke Kelumbayan, kami mengumumkan trip ini di wall facebook BE-PFL dan juga di twitter. Tanggapannya bermacam-macam dan ada beberapa yang daftar. Hari H berangkat kumpul di lapangan Saburai hanya ada saya dan Budhi, kang Maman (Rudi Huang) menunggu di Hanura. Paling tidak kami sudah mengajak ya… 😉

Disinilah kami bertiga sekarang.

Subuh ini setelah tidur pulas di kasur yang empuk, kami bertiga pun merebus mie dan tempe kembali. Tak lupa setelah itu minum kopi Sekura yang dibawa Budhi. Kopi yang saya bawa ga laku😀

Tujuan kami hari ini adalah Teluk Paku, teluk keempat setelah teluk Kiluan (nanti cek lagi bener ga). Mendatangi tempat yang tidak kita tahu sama sekali, ada apa dan siapa disana. What an amazing trip!

Pak Jaelani keluar rumahnya agak pagi hari ini. Maka kami pun pamitan dan menitip barang bawaan supaya lebih nyaman dan aman berkendaraan ke Teluk Paku.

Mampir di rumah kepala desa, kami bertiga bergegas ke pantai di balik bukit. Hanya 15 menit dari rumah pak kepala desa. Naik dan turun bukitnya kami disuguhi pantai yang indah tanpa orang lain selain kami. Sekitar 1 jam disitu tanpa mengeluarkan kamera, hanya melepas sandal, memasukkan kaki ke air laut dan duduk-duduk.

Melanjutkan perjalanan dari rumah pak kepala desa, kami langsung disuguhi tanjakan panjang yang lumayan sudut kemiringannya. Oya, kepala desa bilang “hati-hati di tanjakan ke Paku, curam dan banyak batu lepas”. Tanjakan pertama ini belum seberapa lho…

Sampai di kampung Kelumbayan Bawah, kami harus menyeberangi muara sungai dengan rakit. Sempat mampir di pantai yang ada di perkampungan, kami berhenti sejenak di salah satu toko kelontong. Ada penjahit ibu-ibu di situ, dan cucunya yang bernama Aura. Kelak, Aura juga difoto oleh kawan-kawan yang berkunjung kemari.

Penjahit Kelumbayan

Seorang penjahit wanita di Kelumbayan Bawah, Napal

Aura

Aura cucu si penjahit (baju kuning) bersama kawannya

Puas foto-foto si ibu penjahit, kami menuju teluk Paku. Keluar dari kampung Kelumbayan Bawah, setelah melewati jembatan besi namun alasnya hanya kayu, kami sudah menjumpai tanjakan yang lebih curam daripada tanjakan sebelumnya. Pas membawa motor satu orang satu dan bukan motor matic😀

Setelah tanjakan dan turunan maut, kami tiba di desa Paku, nampak tidak ada kegiatan disini. kampung lengang hanya ada beberapa ibu yang hilir mudik di pekarangan.

Melewati masjid, disinilah rupanya ada keramaian. Masyarakat sedang bergotongroyong membangun satu rumah penduduk yang baru pindah. Ada semacam upacara kecil disini. Mampir, disapa dengan ramah, diajak makan, disediakan kopi dan tentu saja foto-foto.

“Wartawan darimana?”, mereka penasaran. “Bukan, kami hanya hobi fotografi. Senang jalan ke pelosok cari foto”. Itu salahsatu percakapan awal disana. Tidak boleh bohong. Lagipula mereka tidak keberatan kita foto. Malah kalau bisa ajak temen-teman yang lain kesitu mereka minta.

Ya… Dusun terpencil jauh dari Bandar Lampung. Mereka sangat senang kedatangan tamu dari kota yang membawa kamera dan berharap kehidupan mereka dapat dilihat oleh kawan dan saudara di kota.

Perut kenyang terisi makanan lezat ala kampung dan 2 gelas kopi hangat yang sungguh nikmat.

“Mau foto apa lagi? disini ada kegiatan masyarakat yang menambang batu hitam di pantai. yuuk kita antar…”

Ternyata setelah batu-batu hitam untuk taman di Lampung Barat mulai menipis pasokannya, batu-batu itu dikirim juga dari sini ke Bandar Lampung.

Ada beberapa orang / keluarga yang saat itu sedang mengumpulkan batu di pantai, bahkan ada yang mengajak istri dan anak. Kegiatan sehari-hari bersahaja yang ceria. Tanpa ada rasa sungkan beberapa dari mereka malah minta difoto, sedangakan ibu-ibu dan anak perempuan malu-malu saat kita mengarahkan kamera ke mereka.

Selanjutnya menuju Batu Serbu. Batu karang yang ada lubangnya, sehingga air laut yang masuk di rongga di bawahnya menyembur dengan kencang ke atas melalui lubang tersebut. Sayang saat itu sedang tidak nyembur dan tidak kita foto. Ada juga karang berbentuk naga disini yang juga tidak kita foto. difoto nanti saja kali berikutnya kemari.

“Tanggung, sekalian yuuk ke Teluk Umbar. ada apa disana”, Budhi bilang. hohohoho….. Tanjakan dan turunannya paling parah, curammnya minta ampun dahsyat dan banyak “batu lepas”.

Jalanan cuma tanah yang dipadatkan dan berpasir dan banyak batu-batu kecil yang beterbangan kalau ada kendaraan melintas, makanya dinamakan batu lepas. Motor harus berhenti dan masuk gigi 1, kalau mau memasuki turunan. Kalau tidak… bisa bablas menghantam tebing atau masuk ke jurang.

Sampai di Teluknya yang terlihat indah dari atas bukit, kami hanya bisa mengomel dalam hati. Teluknya yang indah tercemari oleh keberadaan tambak udang yang lumayan luas. Ya.. ada tambak udang disitu, jauh di daerah terpencil yang indah.

Tak mau berlama-lama kami balik kanan kembali ke Batu Suluh untuk pulang. Tak lupa mampir di kali jernihnya dan mandi-mandi menyegarkan badan, ngopi dan mengabiskan roti yang ada.

Kembali ke Bandar Lampung. Lelah tapi pikiran jadi segar. Kami akan kembali ke Kelumbayan.

  1. May 29, 2013 at 2:29 pm

    Reblogged this on All In One SEMUANYA ADA DISINI and commented:
    Aneka Photo Cerita Trip Adventure ke Teluk Paku Kecamatan Kelumbayan Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung

  2. ega
    July 7, 2013 at 10:48 pm

    Tx bgt ya udah masukin ttg kampung aku di blog kamu…pantai yang terindah yg teluk paku punya… Salam kenal🙂

    • Yopie Pangkey
      July 12, 2013 at 12:56 am

      Kampungnya bener2 indah, ga bosan untuk datang🙂

  3. July 20, 2013 at 2:11 pm

    bapak aq juga ada di sana di paku,,nama nya sahidi biasa di panggil dilan,profesi ny nelayan,makasi uda masukin kampg halman bpak aq.

    • Yopie Pangkey
      July 22, 2013 at 3:48 pm

      kapan2 boleh mampir ya🙂

  4. July 23, 2013 at 8:57 am

    iya bapak aq ada di sana,aq sekrang tnggal di cilegon.

  5. May 13, 2015 at 10:07 pm

    wihh kampung kelahiran Ayah saya itu bang.

  6. May 13, 2015 at 10:14 pm

    daerah batu naga itu bnyk hantu laut yg kadang mnjelma jadi seorang berpakaian baju hijau dan peci lusuh.
    jgn berprilaku tdk senonoh, pernah ada yang mati tenggelam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: