Archive

Archive for July, 2011

Beberapa Ide Foto Menggunakan Daun Sebagai Obyek di Sekitar Rumah #tipsfoto

July 29, 2011 4 comments

Fotografi tidak lepas dari cahaya karena tanpa ada cahaya kita tidak akan bisa memotret. Bahkan dengan cahaya redup lilin sekalipun tanpa bantuan cahaya lain, kita sudah bisa memotret asal tau caranya saja.

Di era digital saat ini banyak kemudahan yang diberikan oleh pabrikan kamera, salah satunya adalah tersedianya mode Auto. Mode auto adalah mode dimana kamera yang menentukan besaran shutter (kecepatan rana), aperture (diafragma), ISO (kepekaan cahaya), White Balance (kalibrasi warna putih) dan bahkan lampu kilat jika diperlukan.

“Mode Auto?”

Ya benar, mode auto. Kata siapa mode Auto tidak bisa menghasilkan foto bagus dan kreatif. Lalu apakah tidak perlu mempelajari mode “manual” di kamera besar? Jawabannya adalah: tergantung kebutuhan. Terus terang, saya pun terkadang masih memakai mode auto ini.

Nah, kali ini saya mencoba memberikan satu ide tentang “arah cahaya” dan “jenis obyek foto”, dan tidak perlu jauh-jauh mencobanya. Cukup di halaman depan atau halaman belakang rumah saja. Contoh foto di bawah saya ambil di halaman depan rumah, menggunakan daun tanaman yang ditanam oleh ibu saya. Mudah dan bisa dicoba kapan saja. Bisa saat akhir pekan atau liburan, dengan satu kamera seadanya kita bisa mecoba-coba bermain dengan cahaya di rumah. Yang kita perlu mengerti terlebih dahulu adalah

  1. Arah datang cahaya (depan, samping, belakang)
  2. Jenis bendanya (memantulkan cahaya, menyerap cahaya dan tembus cahaya)

Kali ini saya akan memberi 2 contoh obyek foto daun yang tembus cahaya dan gampang ditemukan di halaman rumah. Dan saya menggunakan cahaya belakang (backlight).

Setting kamera saya gunakan mode AUTO

auto

Saya gunakan mode auto, warna hijau.

Posisi kamera kira-kira seperti ini:

posisi kamera

Cahaya belakang (cahaya dari belakang obyek)- posisi kamera bisa 45 derajat ke kiri dan ke kanan

DAN HASILNYA ADALAH:

Contoh foto 1:

daun hijau

warna hijaunya kentara dan serat daun pun tampat jelas pula.

Contoh foto 2:

daun merah

merahnya kelihatan menyala dan serat-serat daun pun terlihat pula

Sekarang coba pindah posisi, kamera berada di antara sumber cahaya (matahari) dan obyek daun, lihat hasilnya.

posisi kamera 2

cahaya depan - sumber cahaya berasal dari depan obyek (di belakang kita)

HASILNYA ADALAH:

Contoh foto 1:

daun hijau 2

banyak pantulan cahaya yang mengganggu di permukaan daun, dan serat daun yang kecil-kecil pun tidak begitu terlihat.

Contoh foto 2:

daun merah 2

banyak pantulan cahaya yang mengganggu di permukaan daun, dan serat daun pun tidak begitu terlihat.

Bandingkan hasil keempat foto tersebut. Saya pribadi lebih memilih hasil 2 foto pertama karena warna dan serat-serat kecilnya timbul. Hal ini dikarenakan obyek fotonya adalah daun yang lumayan tipis dan tembus cahaya dan kita menggunakan cahaya belakang (backlight). Bagaimana pendapat anda?

Jadi, meskipun memotret dengan menggunakan mode AUTO, tapi hasil bisa beda karena posisi yang berbeda. Posisi menentukan, itu kata-kata yang sering didengar waktu ujian sekolah ๐Ÿ™‚

Bagaimana kalau benda lain? Coba daun pisang, atau coba gelas transparan yang terisi sirup warna merah. Coba menggunakan sumber cahaya lain seperti senter, lampu darurat. Coba juga menggunakan styrofoam untuk membantu memantulkan cahaya ke bagian yang gelap. Coba bereksperimen sesuka anda. Semakin banyak mencoba akan semakin bertambah ide-ide di kepala.

Untuk apa foto-foto itu? Anda mempunyai facebook, twitter, atau blog bukan? Boleh dong anda memamerken foto-foto bagus karya sendiri ke teman-teman. Atau foto-foto itu bisa saja jadi tambahan hiasan atau foto ilustrasi yang menunjang tulisan anda di blog. Dan kita tidak perlu lagi copy paste foto orang lain karena motret itu mudahย  ๐Ÿ˜‰

Selamat mencoba dan selamat berakhir pekan.

โ€” โ€” โ€”

Mudah-mudahan ide-ide foto ini dapat menginspirasi anda dan menambah keterampilan perjalanan fotografi Anda. Motret secara teratur. Jangan sampai hambatan dan rintangan membuat anda berhenti memotret.

Mudah-mudahan juga foto-foto rekan lebih baik dari foto-foto di halaman ini. Amiin.

โ€” โ€” โ€”

Advertisements

Perjalanan ke Teluk Paku, Tanggamus

July 27, 2011 8 comments
batu hitam

seorang ibu dan 3 anaknya memilih-milih batu hitam sesuai ukuran pemesan

Saya masih ingat seminggu sebelum ke Kelumbayan, kami mengumumkan trip ini di wall facebook BE-PFL dan juga di twitter. Tanggapannya bermacam-macam dan ada beberapa yang daftar. Hari H berangkat kumpul di lapangan Saburai hanya ada saya dan Budhi, kang Maman (Rudi Huang) menunggu di Hanura. Paling tidak kami sudah mengajak ya…ย  ๐Ÿ˜‰

Disinilah kami bertiga sekarang.

Subuh ini setelah tidur pulas di kasur yang empuk, kami bertiga pun merebus mie dan tempe kembali. Tak lupa setelah itu minum kopi Sekura yang dibawa Budhi. Kopi yang saya bawa ga laku ๐Ÿ˜€

Tujuan kami hari ini adalah Teluk Paku, teluk keempat setelah teluk Kiluan (nanti cek lagi bener ga). Mendatangi tempat yang tidak kita tahu sama sekali, ada apa dan siapa disana. What an amazing trip!

Pak Jaelani keluar rumahnya agak pagi hari ini. Maka kami pun pamitan dan menitip barang bawaan supaya lebih nyaman dan aman berkendaraan ke Teluk Paku.

Mampir di rumah kepala desa, kami bertiga bergegas ke pantai di balik bukit. Hanya 15 menit dari rumah pak kepala desa. Naik dan turun bukitnya kami disuguhi pantai yang indah tanpa orang lain selain kami. Sekitar 1 jam disitu tanpa mengeluarkan kamera, hanya melepas sandal, memasukkan kaki ke air laut dan duduk-duduk.

Melanjutkan perjalanan dari rumah pak kepala desa, kami langsung disuguhi tanjakan panjang yang lumayan sudut kemiringannya. Oya, kepala desa bilang “hati-hati di tanjakan ke Paku, curam dan banyak batu lepas”. Tanjakan pertama ini belum seberapa lho…

Sampai di kampung Kelumbayan Bawah, kami harus menyeberangi muara sungai dengan rakit. Sempat mampir di pantai yang ada di perkampungan, kami berhenti sejenak di salah satu toko kelontong. Ada penjahit ibu-ibu di situ, dan cucunya yang bernama Aura. Kelak, Aura juga difoto oleh kawan-kawan yang berkunjung kemari.

Penjahit Kelumbayan

Seorang penjahit wanita di Kelumbayan Bawah, Napal

Aura

Aura cucu si penjahit (baju kuning) bersama kawannya

Puas foto-foto si ibu penjahit, kami menuju teluk Paku. Keluar dari kampung Kelumbayan Bawah, setelah melewati jembatan besi namun alasnya hanya kayu, kami sudah menjumpai tanjakan yang lebih curam daripada tanjakan sebelumnya. Pas membawa motor satu orang satu dan bukan motor matic ๐Ÿ˜€

Setelah tanjakan dan turunan maut, kami tiba di desa Paku, nampak tidak ada kegiatan disini. kampung lengang hanya ada beberapa ibu yang hilir mudik di pekarangan.

Melewati masjid, disinilah rupanya ada keramaian. Masyarakat sedang bergotongroyong membangun satu rumah penduduk yang baru pindah. Ada semacam upacara kecil disini. Mampir, disapa dengan ramah, diajak makan, disediakan kopi dan tentu saja foto-foto.

“Wartawan darimana?”, mereka penasaran. “Bukan, kami hanya hobi fotografi. Senang jalan ke pelosok cari foto”. Itu salahsatu percakapan awal disana. Tidak boleh bohong. Lagipula mereka tidak keberatan kita foto. Malah kalau bisa ajak temen-teman yang lain kesitu mereka minta.

Ya… Dusun terpencil jauh dari Bandar Lampung. Mereka sangat senang kedatangan tamu dari kota yang membawa kamera dan berharap kehidupan mereka dapat dilihat oleh kawan dan saudara di kota.

Perut kenyang terisi makanan lezat ala kampung dan 2 gelas kopi hangat yang sungguh nikmat.

“Mau foto apa lagi? disini ada kegiatan masyarakat yang menambang batu hitam di pantai. yuuk kita antar…”

Ternyata setelah batu-batu hitam untuk taman di Lampung Barat mulai menipis pasokannya, batu-batu itu dikirim juga dari sini ke Bandar Lampung.

Ada beberapa orang / keluarga yang saat itu sedang mengumpulkan batu di pantai, bahkan ada yang mengajak istri dan anak. Kegiatan sehari-hari bersahaja yang ceria. Tanpa ada rasa sungkan beberapa dari mereka malah minta difoto, sedangakan ibu-ibu dan anak perempuan malu-malu saat kita mengarahkan kamera ke mereka.

Selanjutnya menuju Batu Serbu. Batu karang yang ada lubangnya, sehingga air laut yang masuk di rongga di bawahnya menyembur dengan kencang ke atas melalui lubang tersebut. Sayang saat itu sedang tidak nyembur dan tidak kita foto. Ada juga karang berbentuk naga disini yang juga tidak kita foto. difoto nanti saja kali berikutnya kemari.

“Tanggung, sekalian yuuk ke Teluk Umbar. ada apa disana”, Budhi bilang. hohohoho….. Tanjakan dan turunannya paling parah, curammnya minta ampun dahsyat dan banyak “batu lepas”.

Jalanan cuma tanah yang dipadatkan dan berpasir dan banyak batu-batu kecil yang beterbangan kalau ada kendaraan melintas, makanya dinamakan batu lepas. Motor harus berhenti dan masuk gigi 1, kalau mau memasuki turunan. Kalau tidak… bisa bablas menghantam tebing atau masuk ke jurang.

Sampai di Teluknya yang terlihat indah dari atas bukit, kami hanya bisa mengomel dalam hati. Teluknya yang indah tercemari oleh keberadaan tambak udang yang lumayan luas. Ya.. ada tambak udang disitu, jauh di daerah terpencil yang indah.

Tak mau berlama-lama kami balik kanan kembali ke Batu Suluh untuk pulang. Tak lupa mampir di kali jernihnya dan mandi-mandi menyegarkan badan, ngopi dan mengabiskan roti yang ada.

Kembali ke Bandar Lampung. Lelah tapi pikiran jadi segar. Kami akan kembali ke Kelumbayan.

Perjalanan ke Kelumbayan di Tanggamus

July 25, 2011 13 comments

Kelumbayan – Satu nama tempat di Kabupaten Tanggamus, Lampung yang asing bagi saya. Tidak tahu terletak dimana, harus lewat mana, ada apa saja disana. Benar-benar kosong di pikiran.ย  Andai saja seorang pelukis Lampung tidak mengajak saya untuk jalan kesana dengan motor, mungkin sampai hari ini saya tidak akan tahu dan tidak akan pernah berkunjung kesana sampai hari ini.

Pada kunjungan pertama ke Kelumbayan, saya beserta si pelukis dan dua orang lain berangkat lewat Gedong Tataan yang ternyata memakan waktu 1 jam lebih lama jika kita lewat Hanura.

Kali kedua kesana bersama teman foto (Budhi Marta Utama dan Rudi Huang) 26 Maret 2011, kami tak mau berlama-lama di jalan, lewat Hanura. Berangkat jam 9 pagi dari Bandar Lampung, sebelum tengah hari kami bertiga sudah sampai di pertigaan turunan ke teluk Kiluan.

Mampir sebentar di satu rumah panggung Kampung Batu Suluh, kenalan dengan seorang ibu minta izin untuk bisa menginap di rumahnya di malam hari. sang ibu bilang tidak ada masalah, ia dan suaminya bakal senang kedatangan tamu malam ini. Masih ada keramahan di pelosok daerah ๐Ÿ™‚

Siang itu kami menuju ke Pantai Pegadung, pantai yang sebelumnya pernah saya datangi bersama Budhi dan kawan pelukis pada 8 Maret 2011. Ngopi sejenak di Pegadung. Masak air dengan kompor mini yang dibawa oleh kang Rudi – thanks bro ๐Ÿ™‚

Pada kunjungan pertama kami di Pegadung, kami tidak mengambil foto serius, sengaja hanya melihat-lihat dulu. Kunjungan kali inilah saatnya kami ambil foto-foto. Luar biasa scene batu-batu karang disini. Oleh Budhi batu-batu karang itu dinamakan “Batu Hiu”.ย  Penduduk sekitar menamakannya Batu Layar. Nama Batu Layar ada dimana-mana. Pas dinamakan Batu Hiu untuk membedakan ๐Ÿ™‚

Panas terik tengah hari begitu menyengat kulit, tapi tak terlalu kami hiraukan. Tak terasa sudah beberapa jam di situ. Beberapa foto sudah tersimpan di memori kamera. Tak sabar rasanya untuk segera kami sharing ke teman-teman lain.

Kembali ke Batu Suluh, kami berjumpa dengan suami ibu tadi. Basa-basi sejenak saling berkenalan. Duduk-duduk di teras rumah panggung kecilnya sambil menyeruput kopi panas rasa jahe. Nikmatnya tinggal di kampung yang jauh dari kota.

Mandi dimana? Itu yang sempat terpikir oleh saya. Bukankah sebelum sampai di Batu Suluh ada satu Kali yang jernih yang memotong jalan utama menuju kampung ini….! OK, kami mandi disitu. Jangan ditanya seperti apa segarnya mandi di antara batu-batu besar sambil mendengar suara gemericik air yang mengalir. Kami membayangkan ada bidadari yang mandi disitu ๐Ÿ˜€

Untuk makan malam kali ini, saya dan Budhi berterimakasih lagi ke kang Maman. dengan panci kecilnya ternyata bisa menanak nasi dan merebus mie campur tempe dan pete. Cukup untuk 3 orang yang porsi makannya di atas normal. Setelahnya kembali disuguhi kopi oleh tuan rumah. Ngobrol dengan penduduk yangย  datang dan penasaran siapa kami sebenarnya. Dengan keramahtamahan mereka kami merasa nyaman malam itu.

Sudah membayangkan tidur di beranda rumah panggungnya di udara terbuka, ternyata tuan rumah sudah menyiapkan 3 kasur di dalam. Tak sanggup menolak kami pun tidur di dalam. Pulas tidur. Suara ngorok terdengar bersautan bergantian dengan suara jangkrik dan deburan ombak di kejauhan.

—-

Catatan:

  • sekitar 90 km
  • Aman
  • Jalan banyak rusak
  • Makanan sebaiknya bawa sendiri
  • Kalau naik motor sebaiknya motor non matic dan tidak boncengan
  • Score 6 (score 1 susah dituju dan kemungkinan besar nyasar – score 10 mudah dicapai)
  • Bisa pergi subuh pulang sore
  • Direkomendasikan untuk yang hobi fotografiย  (lanskap, HI, budaya)

9 Keuntungan Bepergian Hunting Foto Sendiran – Solo Hunting

July 23, 2011 9 comments

Banyak teman saya yang tidak nyaman jika bepergian hunting foto sendirian. Mungkin merasa sepi, takut tak aman & tidak pede pegang kamera sendirian ๐Ÿ˜‰

Padahal ada beberapa keuntungan kita hunting foto sendirian, antara lain:

1) BEBAS MEMILIH DAERAH TUJUAN DAN SPOT FOTO
Sering kali susah mencapai kata sepakat menentukan tujuan spot foto dengan kawan. Kalaupun sudah sepakat biasa tetap ada yang kecewa.

2) BEBAS MEMILIH WAKTU
Tidak semua kawan bisa pergi di akhir pekan, tidak semua bisa menginap, tidak semua bisa bareng ambil cuti.

3) BEBAS MELAKUKAN APA SAJA SELAMA DI PERJALANAN
Ada beberapa orang yang senang melakukan/mencoba sesuatu yang baru selama perjalanan. Berenang di kali yang jernih & lompat dari bebatuan tinggi ke airnya yang dalam. Jalan menyusuri pantai. Mencoba makanan khas lokal yang mungkin teman kita tidak suka rasa dan aromanya :p

4) BEBAS DARI KELUHAN KAWAN
Banyak yang tidak suka melelahkan diri berjalan kaki di pantai dan bukit. Ada yang tidak bisa tidur di rumah penduduk lokal. Tidak suka pedas. Pergi sendirian tidak akan ada suara-suara gerutu ๐Ÿ™‚

5) BEBAS BERTEMU ORANG LAIN
Asik dan menarik bisa berkenalan dan ngobrol dengan penduduk lokal yang baru kita kenal.
Disinikah bisa kita rasakan luar biasanya pergi sendiri. Coba saja.

6) BEBAS DARI GANGGUAN
Tiap orang mempunyai kebiasaan yang mungkin mengganggu, seperti: ngorok, ngupil, berisik nelpon melulu.

7) BEBAS MENENTUKAN KECEPATAN JALAN
Mengikuti kawan yang selalu tergesa-gesa atau lambat itu tidak mengasikkan.

8 ) DAPAT PERGI DAN PULANG DI DETIK-DETIK TERAKHIR
Seringkali hal & momen menarik untuk difoto kita temui jika kita fleksibel.

9) KEPUASAAN YANG DIDAPAT
Rasa puas dan foto-foto bagus adalah sesuatu yang sangat layak didapat setelah pulang dari bepergian. Puas bisa menikmati jalan-jalan dan puas memiliki foto-foto bagus yang unik yang belum tentu dimiliki kawan kita.

Jika belum terbiasa jalan sendiri mulailah dengan makan siang sendiri di luar rumah. Lalu coba jalan sendiri di akhir pekan ke tempat-tempat yang dekat dulu di dalam/luar kota.

Have a nice weekend.

Mengejar Diri Sendiri

July 21, 2011 2 comments

Siang ini saya, Wisnu Titot dan Febry membuat satu video pendek. Di salah satu scene saya harus berlari. Terbesit dalam hati, apa yang sebenarnya saya kejar sehari-hari. Kawan atau lawan?

Merenung sore mencari jawaban – ternyata saya lebih suka mengejar diri sendiri daripada mengejar lawan dan pesaing. Bukan karena tidak peduli dengan mereka tapi karena tidak kawatir dengan apa yang mereka kerjakan dan capai.

Diri sayalah pesaing utama saya.
Saat saya berhasil mengejar dan mengalahkan orang lain, disitulah saya punya alasan untuk berhenti sejenak, jalan ditempat – stagnan. Saat berlomba dengan diri sendiri, akan selalu ada target, pencapaian dan ide baru.

Kawatir dan menjadi defensif dengan apa yang orang lain capai hanya buang-buang waktu dan energi.

Saya termasuk orang yang percaya dengan kerjasama dan berbagi. Dengan cara ini tiap orang menang, bahkan bisa mencapai sesuatu yang lebih tinggi dan ide yang lebih luar biasa.

Dan yang paling penting dan indah adalah memiliki pertemanan yang saling menguntungkan dan berlangsung lama, awet dan tidak dangkal.

Siapa yang kawan kejar? ๐Ÿ™‚


untuk semua rekan-rekan foto di Lampung ๐Ÿ™‚

(Foto oleh: Rudi Huang)

Cahaya Pagi

Ke dalam cahaya pagimu,
aku bepergian jauh.
(Citayam, 15 Juli 2011)

Hitam dan Putih

July 15, 2011 2 comments
baca

Membaca sambil minum kopi

Saat melihat sesuatu, saya bukan melihat Hitam dan Putih.

walau terkadang saya merasa berada di dalamnya.

Ada saatnya kita harus melihat bayang-bayang

kopi dan buku

Secangkir kopi di antara buku-buku

dan mundur satu langkah dan mencari cara pandang baru,

untuk mendapatkan kemungkinan baru.

Tidak sekedar menjuluki sesuatu itu Hitam atau Putih.

kopi dan buku

Secangkir kopi cappucino dan buku-buku.