Archive

Archive for June, 2011

Usia boleh semakin tua, kebaikan tak pernah tua dan basi.

Menanam padi

Menanam padi bersama

Selalu ada hal menarik dan berguna dalam tiap hari yang sudah kita lewati.

Ada orang yang kita jumpai, orang jauh yang bertamu ke rumah kita, teman lama yang menyapa melalu telpon selular mengajak bertemu.

Ada pekerjaan yang sudah kita selesaikan, kebaikan yang kita kerjakan, bibit tanaman yang kita tanam untuk dipetik kemudian hari.

Usia boleh semakin tua, kebaikan tak pernah tua dan basi.

Categories: My thought, Photo Tags: , , , ,

Beberapa Ide Foto Hitam Putih di Sekitar Rumah #tipsfoto #bw

June 29, 2011 5 comments

Di hari libur seperti sekarang ini, langit cerah dan keinginan memotret sedang tinggi-tingginya. Jari rasanya gatal sekali untuk menekan tombol shutter. Segera ambil kamera, masukkan ke dalam tas, hidupkan motor dan pergi. Di tengah jalan baru terpikir, apa yang ingin saya potret? 😀

Setelah berkali-kali mengalami hal ini, saya segera membeli beberapa buku dan majalah yang berisi foto-foto hitam putih yang menarik. Membuka beberapa situs foto yang bisa saya “save as” dan menyimpan foto-fotonya di harddisk. Tak lupa membeli satu notebook kecil yang hampir selalu saya bawa kemana saja. Saat muncul ide segera tulis.

Sebagai awal, mengapa tidak mencoba memotret di sekitar rumah? Tidak keluar ongkos, bensin dan tidak perlu mengajak kawan yang bisa membatasi ruang gerak dan waktu kita. Kita bisa bebas bereksperimen obyek foto, komposisi dan sudut bidik.

1. TERAS RUMAH

Ya, teras rumah. Terdengar lucu sepertinya 🙂 Tapi coba dulu sebelum membuang ide ini. Saya coba ambil beberapa barang antik milik nenek dari lemari tua dan meletakkannya di kursi bambu di teras. Lalu di jendela dan lantai teras

Well… Teras sepertinya bisa menjadi tempat bagus belajar fotografi bukan? Dan cuaca tidak akan mengganggu kegiatan kita. Setelah teras, coba ke bagian rumah yang lain. Ruang tamu, ruang tidur, dapur, toilet, gudang. Buka lemari pakaian, lemari makanan, kulkas, kotak antik di ruang tamu. Gunakan kursi, meja kerja, buku, koran, pensil, sandal, sepatu sebagai alat bantu atau obyek.

2. HALAMAN

Satu langkah dari teras saya sudah di halaman. Saya coba memotret bunga dan daun. Lihat sekitar dan temukan apa saja yang bisa menarik difoto. Saya tidak saja berdiri, tetapi membungkuk, berlutut, duduk bahkan mengambil kursi dan berdiri di atasnya. Eksplorasi benda-benda di tanah, dinding samping rumah, lihat ke atas dan sebagainya. Mulailah melihat dan mengamati seolah-olah anda seorang fotografer handal 🙂

— — —

Mudah-mudahan ide-ide foto ini dapat menginspirasi anda dan menambah keterampilan perjalanan fotografi Anda. Motret secara teratur. Jangan sampai hambatan dan rintangan membuat anda berhenti memotret.

Mudah-mudahan juga foto-foto rekan lebih baik dari foto-foto di halaman ini. Amiin.

— — —

NB:

  1. Saya pakai mode A (aperture priority) di seluruh foto di atas.
  2. Lensa yang saya gunakan adalah lensa kit Nikkor 18-105 pinjaman seorang kawan yang baik hati 🙂
  3. Saat memotret saya sudah membayangkan foto-foto ini nantinya bakal menjadi hitam putih. Bukan foto gagal yang saya jadikan hitam putih.
  4. Kamera poket, BB, IPhone, lomo, dll juga bisa lho…..

Potret Kampung Cungkeng

June 26, 2011 4 comments
Perahu

Perahu menuju Pulau Pasaran. cukup membayar Rp. 3000 /orang.

Bagi sebagian orang, Kampung Cungkeng adalah wilayah yang kumuh dan berbau agak tak sedap.  Tak banyak yang mau bepergian kemari, bahkan mungkin tidak tahu di seberangnya yang hanya berjarak tidak lebih dari selemparan batu, terdapat Pulau Pasaran sentra pembuatan ikan asin propinsi Lampung.

Kampung ini terletak di Kelurahan Kota Karang, kecamatan Teluk Betung Barat, kota Bandar Lampung.  Penduduk kampung Cungkeng  mayoritas berasal dari Bugis dan bermatapencaharian nelayan, pedagang ikan, pemilik kios, dan lain lain.

Dengan segala kesederhanaannya Kampung ini tetap saja menarik perhatian saya utuk didatangi dan dilihat-lihat. Duduk-duduk di dermaga penyeberangan yang menuju Pulau Pasaran, naik perahu kayu ke sebuah bagan yang sedang diperbaiki dan memperhatikan anak-anak yang bermain di sekitar.

Berangkat dari rumah selesai sholat Ashar dan kembali sebelum adzan Magrib. Membawa gear foto secukupnya supaya tidak terlalu risih saat membidik.  Be fast – be smart – be polite.

Was-was dan tidak nyaman, itu yang saya rasa waktu sampai di kampung Cungkeng. Tetapi selang beberapa menit setelah mengeluarkan kamera, perasaan itupun hilang, dengan sedikit senyum yang tulus saat bertegur sapa dengan beberapa pemuda dan anak-anak perempuan yang lewat.

Hhhmmm… Dibalik kederhanaannya kampung Cungkeng tetap saja memiliki warna-warni keindahan yang bisa kita nikmati, dengan atau tanpa kamera.

Hening

Matahari perlahan terbenam,
terdengar adzan menggema di kejauhan.
Perlahan dia letakkan kening di atas tikar,
dalam keheningan di bawah hujan dingin.

Categories: My thought Tags: , , , ,

Kehidupan Sehari-hari di Pulau Sebesi si Pulau Bundar

June 22, 2011 6 comments

Pada kesempatan terakhir mengunjungi Pulau Sebesi pada 8 – 9 januari 2011, saya memilih untuk lebih banyak melihat kehidupan sehari-hari di sekeliling pulau. Sengaja membawa dua motor dengan seorang kawan, Budhi Marta Utama, kami berdua dapat menjelajahi sebagian pulau dengan leluasa.

Banyak scene human interest menarik bagi peminat foto disini, seperti kehidupan nelayan yang hilir mudik di tepian pulau, petani, penggembala kerbau, dan pembuat gula kelapa, atau anak-anak yang bermain di rumah, di gubuk pembuatan gula kelapa dan pantainya.

Pada sore pertama, kami memutuskan untuk menuju Gubug Seng melihat Letusan Krakatau dari jarak 17 km. Di tengah perjalanan sempat memoto seorang ibu yang sedang mencetak gula kelapa. Sore-sorean memandang letusan Anak Krakatau dari kejauhan, tanpa sinyal telepon dan kebisingan kota, betapa eksotisnya.

Keesokan pagi cuaca mendung, tak bisa berbuat banyak. Sarapan dan ngopi sambil menunggu cuaca cerah. Saat cuaca cerah, baru sekitar 2 km kami sudah menemukan spot foto menarik, pabrik tradisional pembuatan gula kelapa (gula merah). Satu komplek perumahan gubuk kayu dan beberapa gubuk terbuka tempat perebusan air nira kelapa. hampir 3 jam tak bergerak disitu, motret, disuguhi kopi, dan pisang rebus yang dicemplungkan ke rebusan nira. Ternyata pulau ini juga banyak menghasilkan pisang 🙂

Pada sore kedua kembali melihat Anak Krakatau dengan beberapa scene latar depan kehidupan penduduk lokal pulau. Tak terpengaruh dengan aktifnya letusan Anak Krakatau yang saat itu heboh diberitakan di koran-koran 🙂

Kehidupan terus berlanjut di pulau berbentuk bundar yang gagah dengan gunungnya dan dikelilingi banyak pantai indah.

——

Pulau yang terletak di Teluk Lampung ini masuk wilayah administratif Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Berjarak sekitar 17 km dari pantai Canti  kalianda dengan luas 2620 hektare dan panjang pantai 19,55 kilometer. di Pulau ini terdapat 4 dusun yakni Regahan Lada, Segenom, Tejang, dan Gubuk Seng. Terdapat pulau-pulau yang berdekatan dengan Sebesi, baik yang memiliki penghuni maupun tidak seperti Pulau Sebuku, Pulau Umang, dan Pulau Sawo.

Para wisatawan yang hendak mengunjungi Pulau Anak Krakatau biasanya menginap dulu semalam di Pulau Sebesi ini. Saat ini ada beberapa penginapan yang bisa kita gunakan. Ada wisma milik Dinas Pariwisata (cp. Bpk Ayun 081369923312) dan beberapa cottage yang dimiliki oleh orang luar pulau.

Untuk mencapai pulau ini bisa melalui Cilegon dengan naik kapal kayu motor pengangkut kelapa, pisang dan kopra. Atau menyeberang dari pelabuhan pantai Canti Kalianda, dengan waktu tempuh sekitar 2 – 3 jam.

Melihat  potensi sumberdaya alam yang terdapat di pulau ini harusnya dapat dikembangkanmenjadi obyek wisata sangat menarik. Selain dapat menenunjang Pendapatan Asli Daerah, imbas positifnya akan mengena kepada peningkatan taraf hidup rakyat, yang dapat mengambil keuntungan dari kegiatan ekoturisme. (dari berbagai sumber)

Categories: All About Lampung, Wisata

Sisi Lain Keindahan Teluk Kiluan

June 20, 2011 7 comments

Sudah banyak yang tahu tentang Teluk Kiluan dan lumba-lumbanya.

Berkendaraan selama 3 jam sejauh 80 km di jalan yang berlubang, mendaki dan menurun tajam. Sampai di Teluk Kiluan menyeberang ke pulau Kelapa, hanya ada rumah kayu panggung 6 kamar, litrik yang hidup hanya di malam hari dan air mandi yang agak asin 🙂

Melihat pasirnya yang putih, bebatuan di berbagai sisi pulau dan dapat menikmati matahari tenggelam dan bulan purnama adalah hal indah yang dapat dinikmati disini selain atraksi lumba-lumbanya di pagi hari.

Sebuah tempat ideal untuk kabur sejenak dari kebisingan kota di akhir pekan.

—-

LatLng: -5,78227, 105,09253

Categories: All About Lampung, Wisata

Di rumah saja dan hujan? Berhenti mengeluh dan ambil kamera.

Di rumah saja tidak bisa pergi karena hujan terkadang terasa menyebalkan.  Bingung dengan apa yang mau dikerjakan, bosan dengan acara TV, sudah 3 kali membolak-balik halaman majalah dan koran.

Yah… itu wajar sekali menurut saya. Mungkin kita berpikir hidup terlalu singkat untuk hanya berdiam diri di rumah saja. Bukankah waktu itu berharga. Terlalu berharga untuk dihabiskan hanya di rumah.

Well, coba segarkan lagi pikiran kita. Benar, bukankah waktu itu berharga. Sangat berharga dan sayang kalau hanya dipakai buat mengeluh lantaran hujan yang tak henti. Coba buka jendela ruang tamu, jendela ruang tengah, pintu belakang, dan lain-lain. Hirup udara segar dan harumnya tanah dan daun basah di luar.

Nah sekarang pikir lagi apa yang bisa kita kerjakan selain menonton acara TV yang membosankan dan membuka lagi koran dan majalah yang sudah kita hapal isinya 🙂 Yup.. Ambil kamera, bidik dedaunan basah dan tekan shutter. Berhenti sejenak, nikmati segarnya udara dingin, cari obyek lain, pindah tempat, dan seterusnya.

“Situ enak, rumahnya ada tumbuhan dan bunga yang bisa difoto. Disini ga ada”. Buka gudang, ambil bola plastik, boneka, mainan anak-anak, mobil-mobilan dll, taruh di jendela atau lempar ke luar di bawah rintik hujan. jepret..!

“iya kalau siang, kalau malam bagaimana? mati lampu pula”. Kunci semua pintu dan jendela, matikan lilin, lompat ke kasur, peluk guling terus tidur! Minimal tidak nulis status  keluhan yang membosankan bagi yang baca di facebook atau twitter 😉

Categories: tips